Pendidikan Inklusi dalam Keluarga dan Lembaga

Daftar Isi


Pendidikan Inklusi dalam Keluarga dan Lembaga

Juara 3 Lomba Esai PP IPNU


Pendahuluan

Anak adalah buah hati orang tua. Menjadi kewajiban orang tua mengerahkan segenap hati mereka dengan memberikan pendidikan utama dan pertama bagi sang buah hati. Tidak terkecuali bagi anak-anak yang menyandang disabilitas. Mereka berhak mendapatkan kasih sayang orang tua dengan kadar yang sama. Mereka tetap menjadi suatu kewajiban bagi orang tua untuk membesarkan dan mengantarkannya hingga dewasa. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 9 ayat 1 menyatakan hal ini, bahwa “Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasan sesuai minat bakatnya.”. Selaras dengan hal itu, Imam Ghozali juga menyatakan hal yang sama bahwa pendidikan anak adalah urusan yang sangat penting dan harus diprioritaskan dari urusan yang lain. Jika anak dididik  dengan baik, maka dia akan tumbuh menjadi orang baik, soleh-solehah dan mendapatkan kebahagiaan dunia-akhirat.[1]

Anak-anak disabilitas adalah titipan dari Tuhan yang diberikan kepada orang tua. Dr, Sumiyati, M.Pd. dalam penyebutan Anak Berkebutuhan Khusus selalu memanggil dengan istilah “Anak Istimewa”. Mereka berbeda dengan anak yang lain, maka mereka layak disebut sebagai anak istimewa. Istilah ini dapat menjadi suatu Hypnolearning baik kepada para orang tua maupun kepada anak itu sendiri. Dengan bahasa lisan yang positif yang keluar dari orang lain dapat memberikan stimulus positif juga kepada lawan bicara. Seorang guru yang menggunakan tutur bahasa yang baik dan santun, niscaya peserta didik tidak akan berani mengutarakan isi hati dengan kalimat-kalimat yang menyakiti hatinya.[2] Terlebih jika istilah “anak istimewa” diucapkan terus menerus akan menjadi satu motivasi yang positif pada mental anak maupun orang tua dari anak tersebut.

Dalam Islam, memberi label orang lain dengan label atau nama yang lebih bagus juga dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam satu riwayat Nabi Muhammad bersabda “Buatlah nama dengan nama-nama Nabi. Nama yang paling di senangi Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. Yang paling tepat adalah al-Harits (penanam) dan al-Hammam (yang selalu punya keinginan),...”. Nabi Juga memberikan gelar pada sahabat karib beliau, sahabat Abu Bakar dengan julukan As-Sidhiq (Orang yang Jujur). Selain itu Nabi juga memberikan nama-nama kepada hewan peliharaan dan barang-barang beliau.  Misalnya unta beliau yang diberi nama al-Qashwa, dan al-Ghadhba’, nama keledai beliau diberi nama Ya’fur, Kambing beliau yang biasa beliau minum susunya adalah Ghaitsah. Maka, memberikan label Anak yang memiliki keterbatasan dengan istilah Anak Istimewa adalah hal yang baik dan suatu bentuk ittiba’ kepada Akhlak Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam[3].

Membangun Pendidikan Keluarga Bagi Anak Istimewa

Terlepas dari sistem pendidikan di Indonesia, peran orang tua sebenarnya tidak bisa digantikan secara total oleh lembaga-lembaga pendidikan. Karena pembentukan karakter anak terjadi dalam sebuah keluarga. Mulai dari pendidikan keluarga inilah internalisasi nilai-nilai keagamaan dan karakter unggul seluruh anggota keluarga, terkhusus bagi seorang anak. pendidikan keluarga harus dioptimalkan dalam rangka membangun  akidah Islam yang kuat, Mental yang tangguh, serta moralitas yang kokoh. Dengan begitu anak akan siap menghadapi kehidupan sesuai dengan zaman mereka. [4]

Bagi anak Istimewa, pendidikan keluarga juga menjadi hak utama yang patut didapatkan dari orang tua mereka. Mereka harus tetap mendapat kasih sayang dari kedua orang tua. Mereka berhak memiliki masa depan yang gemilang. Karena anak merupakan suatu tunas lahirnya generasi baru yang akan menjadi penerus cita-cita perjuangan bangsa dan pembangunan Nasional. Namun begitu, orang tua juga harus memiliki upaya lebih. Walau berat kesadaran dan kesabaran orang tua sangat diperlukan. Karena semua hal yang ada di dunia ini adalah pemberian dari Sang Kuasa, dan manusia harus bersyukur atas pemberianNya.

Salah satu ungkapan syukur sebagai orang tua adalah memberikan pendidikan yang layak untuk buah hatinya. Sebagai orang tua dari anak yang disabilitas perlu adanya perhatian dan penanganan khusus dan istimewa agar kelak bisa menjalani kehidupannya dengan baik. Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya orang tua dari anak yang disabilitas sebagai pendidikan pertama dalam keluarga adalah sebagai berikut:[5]

1. Tidak Patah Semangat

Paling utama bagi orang tua maupun anak yang menyandang disabilitas adalah semangat. Bagi orang tua semangat untuk merawat dan membantu perkembangan buah hati mereka. Dan bagi anak semangat untuk perjalanan dirinya sendiri. Tidak sedikit anak yang dari kecil menyandang disabilitas namun karena semangat dari semua pihak mereka tumbuh dengan membawa segudang prestasi.

2. Deteksi Dini

Apabila sejak awal orang tua merasa ada sesuatu yang berbeda dengan sang buah hati, maka seyogyanya orang tua sesegera mungkin memberikan tanggapan sigap. Jika orang tua lalai dengan deteksi awal pada anak, akibatnya tumbuh kembang anak menjadi tidak optimal.[6] Dalam Buku berjudul Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus, Dinie Ratri menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mendeteksi secara dini anak  berkebutuhan khusus. Diantaranya yaitu :

  • Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu bertujuan untuk menemukan dan mengetahui status gizi yang kurang atau buruk pada anak. 
  • Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan perkembangan anak (keterlambatan berbicara dan berjalan), gangguan daya dengar, gangguan sensorik lainnya.
  • Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya masalah mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian serta hiperaktivitas. [7]

3. Memahami jenis disabel anak dan adaptasi

Tiap jenis disabilitas anak memiliki jenis yang berbeda-beda dan penanganannnya juga berbeda-beda. Sebagai orang tua, untuk mengembangkan potensi anak, dapat melakukan beberapa tindakan yaitu memahami kondisi anak secara penuh dan utuh baik mental, sosial, maupun fisik, menindaklanjuti tugas atau saran dari guru, maupun ahli medis kepada anak selama di rumah, serta mendata permasalahan lain yang muncul.[8]

4. Meningkatkan Kedekatan Emosional

Ketika proses adaptasi berjalan baik,  segala proses stimulasi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan mudah. Karena orang tua telah memahami kondisi dan potensi anak. Hubungan yang baik antara orang tua-anak ini nantinya akan memberikan kenyamanan pada anak. anak akan merasa aman dan terbuka dengan orang tua.

5. Terapi

Mengikutkan anak pada terapi-terapi disertai adanya konsultasi dengan para ahli atau dokter dapat membantu anak sehingga dapat menjalani kehidupan sebagaimana anak-anak lainnya. Terapi tiap jenis anak berkebutuhan khusus juga berbeda-beda. Setelah konsultasi dan adanya bimbingan para ahli, orang tua dapat ikut menjalankan terapi-terapi mandiri ketika berada di rumah.

6. Bergabung dengan Komunitas

Bergabung dengan komunitas yang memiliki latar belakang sama dapat memberikan sarana informasi terkait dengan jenis difabel anak.  Bagi anak, mereka dapat berbagi dan bersosialisasi dengan teman lain yang memiliki pengalaman lain terkait keterbatasannya. Salah satu hal yang dapat membantu menemukan komunitas adalah melalui Lembaga pendidikan. Baik itu SLB (Sekolah Luar Biasa) maupun Sekolah Inklusi.

7. Berdo’a

Dan hal yang paling penting bagi orang tua yang diberikan karunia anak istimewa adalah dengan berdo’a kepada Yang Mahakuasa. Memohon kebaikan bagi anak dan memohon kemudahan dalam mengasuh anak, diberikan kasih sayang yang tulus, serta kesabaran yang lebih dalam menjalani proses pendidikan bagi anak yang istimewa.

7 hal tersebut adalah beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua. Karena pengupayaan orang tua bagi anak adalah kewajiban. Berhasil tidaknya anak di kehidupan masa depan pembentukan awalnya adalah di dalam keluarga. Dan agar penanganan kebutuhan anak yang lebih optimal perlu adanya keterlibatan lembaga pendidikan maupun komunitas khusus bagi anak Istimewa.

Dukungan Lembaga

Lembaga pendidikan menjadi salah satu pendorong terbesar dalam perkembangan anak istimewa. Point 5 dan 6 dalam upaya orang tua bagi anaknya yang istimewa akan memberikan implikasi yang besar bagi perkembangan anak. Baik itu melalui terapi-terapi, seperti terapi bermain, terapi renang maupun hal-hal yang lain. Wolfberg & Schuler menyatakan bahwa model terapi bermain yang terintegrasi dalam kelompok juga dapat berhasil, dimana program ini ditujukan untuk meningkatkan interaksi sosial dan melatih keterampilan bermain simbolik.[9] Dengan mengikuti komunitas, anak akan mendapatkan terapi-terapi dan  dilatih bersosialisasi dengan dunia luar dalam rangka melatih kemandirian. Sosialisasi dengan lingkungan luar juga dapat memberikan kesempatan dan peluang-peluang bagi anak. kesempatan-kesempatan ini akan menjadi terarah dalam proses pendidikan, yang mana akan dijalankan dengan penuh kesadaran  dan sistematis.[10] Lembaga pendidikan yang juga menampung anak-anak istimewa dengan sistem komunitas dan upaya adalah pendidikan Inklusi.

Inklusi diserap dari bahasa Inggris, inclusion, yang mendeskripsikan sesuatu yang positif dalam usaha-usaha menyatukan anak-anak yang memiliki hambatan dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh. Jika inklusi disandarkan pada makna pendidikan, pendidikan inklusi adalah adalah pendidikan yang mengikutsertakan anak-anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak-anak sebaya reguler dan menjadi bagian dari lingkungan tersebut, sehingga menciptakan suasana belajar yang yang kondusif.[11]

Pendidikan Inklusi dapat mendukung perkembangan anak yang memiliki keterbatasan. Walaupun tidak semua jenis ABK dapat diterima disini, namun paling tidak dengan adanya sekolah inklusi masyarakat akan mulai mau menerima keberadaan anak Istimewa ini dan efektif untuk melawan sikap diskriminatif bagi anak yang memiliki keterbatasan. Masyarakat memangdang baik sekolah inklusi baik untuk masyarakat sekitar maupun bagi anak yang belajar di sekolah tersebut. Adanya sekolah inklusi juga memungkinkan anak-anak istimewa tetap dapat belajar bersama dengan anak normal, dan diperlakukan layaknya anak normal lainnya. Hal tersebut berdampak pada psikologis anak berkebutuhan khusus, yaitu memberikan kesempatan bagi perkembangan kepercayaan diri anak berkebutuhan khusus (self esteem). Self esteem adalah perasaan seseorang tentang ketidaksesuaian antara dirinya dan ingin menjadi apa nantinya.[12]

Loiacono dan Valenti menyatakan bahwa anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di sekolah regular memiliki kompetensi sosial yang lebih baik. Interaksi sosial memberikan kesempatan bagi anak-anak istimewa bagaimana berinteraksi dengan orang yang berbeda-berbeda. Anak-anak istimewa dalam hal kompetensi sosial dikembangkan dengan cara belajar berinteraksi dengan orang yang normal. Peserta didik, termasuk juga anak ABK, ditunjukkan situasi hidup yang nyata di dalam kelas. Interaksi sosial mengajarkan peserta didik untuk meniru strategi, meningkatkan kemampuan memecahkan suatu masalah, serta memperoleh kecakapan hidup yang lebih baik.[13]

Penutup

Dalam pendidikan inklusif, semua anak belajar dan memperoleh dukungan yang sama dalam proses pembelajaran dengan anak-anak regular. Pendidikan inklusif juga dapat menangani semua jenis individu, bukan hanya anak yang mengalami kelainan. Salah satu manfaat yang didapatkan adalah menjadi sarana efektif untuk melawan sikap diskriminatif bagi anak yang memiliki keterbatasan.

Selain beberapa terapi atau penanganan khusus yang biasanya diterapkan di beberapa sekolah inklusi, perkembangan anak istimewa juga sangat didukung oleh keluarga. Keluarga yang menjadi sekolah utama dan pertama menjadi satu titik start memulai pendidikan semua anak, tanpa terkecuali anak istimewa.  Orang tua dapat memulai dari deteksi dini pada anak apabila terjadi masalah-masalah maupun hal yang tidak wajar bagi anak. lalu, apabila memang benar anak memiliki keterbatasan menjadi point penting untuk orang tua untuk membangun mental diri maupun anak agar tetap melangkah. Mental anak dan orang tua yang telah kuat sejak dari keluarga akan menghilangkan sifat self esteem dari anak istimewa. Dengan begitu potensi anak istimewa akan memungkinkan dapat muncul dan dikembangkan untuk membawa mereka pada kehidupan dewasa nantinya.


DAFTAR PUSTAKA

Asmani, Jamal M., Keteladanan KH. Abdullah Zain Salam: Kiat Sukses Membangun Pendidikan Keluarga, (Yogyakara: Global Press, 2018)

Desiningrum, Dinie R. Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus, (Yogyakarta: Psikosain, 2016)

Imron, M., Metode Hypnosis Learning Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Santri; Studi Kasus Di Tpa Sabilillah Ketintang Surabaya, Journal of Islamic Education Studies, Vol. 5 No. 1 (2017)

Muayyad, A., Syamail Rasul: Menyimak Perangai Nabi Tecinta, (Surakarta: Penerbit Layar, 2023)

Pratiwi, Jamilah C., Sekolah Inklusi Untuk Anak Berkebutuhan Khusus: Tanggapan Terhadap  Tantangan Kedepannya, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, Surakarta, 21 November 2015

Sukadari, Model Pendidikan Inklusi dalam Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus, (Yogyakarta: Kanwa Publisher, 2019)

Sumiyati, Muawanah, Liya A., Be a Dream Parent, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2021)

Suriyati, Rahmawati, Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Interaksi Sosial Anak Autis di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH Jambi Tahun 2014, Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.16 No.1 Tahun 2016

Walgito, B., Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: Andi Offset, 2010)

Mengenal Ciri-Ciri Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) https://www.sammariewijaya-hospital.com/artikel/mengenal-ciri-ciri-anak-berkebutuhan-khusus-abk diakses pada 01 Maret 2023


Admin salafudin.my.id
Admin salafudin.my.id Belajar itu kewajiban, bahkan sejak turun dari kandungan sampai beruban

Posting Komentar