Mencoba Mendengarkan Suara Alam yang Mulai Jemu
Mencoba Mendengarkan Suara Alam yang Mulai Jemu
Bencana alam meningkat sepanjang tahun di Indonesia. Bahkan di akhir-akhir ini sangat banyak sekali berita-berita bencana. Mulai dari cuaca ekstrem, banjir, gempa bumi, longsor dan masih banyak lagi. Selain faktor alam, sebagian bencana alam tersebut merupakan bencana yang disebabkan ulah manusia sendiri. Akhibat pencemaran udara, pencemaran air melalui limbah yang dibuang ke sungai-sungai, dan lain sebagainya.
AS. Rosyid dalam karyanya berjudul Menahan Nafsu Merusak Bumi terbitan Mojok memberikan argumen bahwa kerusakan lingkungan sebenarnya disebabkan oleh nafsu manusia sendiri. Nafsu manusia-manusia kapitalis menggunakan cara apapun bahkan dengan mengeksploitasi alam. Menebang dan membabat hutan tanpa adanya rebohisasi, menambang secara besar-besaran, atau bahkan dengan cara menyiksa hewan semuanya dilakukan.
Terbangun dari konsepsi bahwa manusia sebagai makhluk yang diistimewakan Tuhan yang dipersilahkan memanfaatkan semua yang ada di bumi untuk diambil keuntungannya. Dari situ kerusakan alam yang berangusur secara konsisten mulai tercipta.
As Rosyid memberikan beberapa contoh tindakan eksploitasi hewan secara masal yang terjadi di sekitar kita tanpa disadari.
Pada prolog buku Menahan Nafsu Merusak Bumi, AS Rosyid berdebat dengan temannya tentang kehalalan daging ayam yang diproduksi masal dengan cara yang menyakitkan bagi si ayam. As Rosyid mensanksikan kehalalan daging ayam tersebut. Karena Pegiat dan pemerhati lingkungan ini mengQiyaskan hukum ayam sebagai Haram sababi. Hukum suatu barang yang halal namun diproses dengan cara haram, maka hukum barang tersebut menjadi haram.
Oleh temannya, pendapat AS Rosyid disangkal. Karena kegiatan seperti ini sudah biasa dan bisa dimaklumi, demi kebutuhan manusia.
Bagi AS Rosyid walau sekedar ayam. Namun, ayam adalah bagian dari makhluk Tuhan yang juga memiliki hak hidup bebas, seperti layaknya manusia. Ayam yang seharusnya hidup bebas di alam—karena adanya tuntutan pasar— akhirnya dipaksa dapat hidup berdesak-desakan dalam satu kandang kecil. Lebih lagi diberikan obat yang membuat ayam lebih cepat gemuk berdaging atau dapat menghasilkan telur lebih banyak dari seharusnya.
Tidak hanya hewan, tumbuhan juga mendapatkan dampak dari nafsu manusia. Hutan yang merupakan paru-paru bumi banyak berubah menjadi bangunan-bangunan megah. Hutan digunduli dan dibabat untuk kepentingan manusia.
Pohon-pohon itu tidak bisa membalas atau sekedar berkomentar kepada manusia. Namun, akhir-akhir ini peneliti menemukan bahwa tumbuhan juga memiliki perasaan. Hanya saja mereka mengekpresikan rasa sakit dengan cara yang berbeda dengan manusia atau hewan.
Dikutip dari suara.com rasa sakit pada tumbuhan bisa dirasakan ketika, misalnya daun yang dimakan ulat. Tumbuhan memiliki respon yang diproses oleh sistem sinyal sistemik. Sebuah sistem yang memiliki peran hampir sama dengan sistem saraf pada manusia dalam menangani luka. Saat ulat menggerogoti daun, maka daun akan mengeluarkan glutamat. Secara bertahap, glutamat akan mengaktifkan kalsium di seluruh bagian tumbuhan. Selanjutnya, kalsium yang berperan menyampaikan impuls akan memicu sistem pertahanan tumbuhan. Hal tersebut akan menjadikan daun terasa tidak enak sehingga ulat berhenti menggerogoti tumbuhan tersebut.
Lalu bagaimana seandainya mereka (hewan dan tumbuhan) semuanya mampu mengeluhkan perbuatan manusia ini?
Apa saja kiranya yang mereka proteskan kepada Tuhan tentang ulah manusia-manusia?
Terdapat salah satu cuplikan cerita bagaimana seseorang bisa mendengarkan ucapan-ucapan tumbuhan. Dia mampu mendengar pembicaraan rerumputan seperti ini
“Saya ini obat untuk penyakit si Fulan”.
Akhirnya tumbuhan tersebut diambil dan dijadikan sebagai obat.
Cuplikan cerita ini diabadikan dalam dalam Qisasul Auliya’ karya Muhammad Kholid Tsabit. Dia yang dimaksud dalam buku ini adalah Syekh Aq Syams al-din yang merupakan tokoh sufi yang terkenal, Juga berprofesi sebagai dokter, ahli botani, dan ahli Farmasi.
Hal ini memperlihatkan bagaimana alam mampu bersahaja dengan manusia. Bahkan rerumputan menawarkan dirinya diambil untuk dijadikan sebagai obat untuk manusia. Alam akan mendukung semua aktifitas manusia, dengan catatan jika manusia tidak menyakiti alam.
***
Ketika alam yang bernyawa (tumbuhan dan hewan) bisa merasakan dan mengekspresikan kekecewaannya pada manusia, bagaimana dengan yang tak bernyawa ?
Benda tak bernyawa yang paling banyak berpengaruh pada lingkungan dan kehidupan manusia adalah limbah. Limbah dari pabrik maupun limbah perseorangan. Sedangkan limbah plastik menjadi limbah yang jumlahnya paling banyak saat ini.
Sampah-sampah plastik yang menumpuk di selokan atau sungai pada akhirnya menyumbat saluran air. Menggunung dan akhirnya menyebabkan air meluap dan banjir. Berdampak ke daerah di sekitarnya.
Sampah-sampah plastik itu menjadi biang keladi masalah tersebut. Tumpkan sampah yang tidak pernah habis, aliran air menjadi tersumbat, banjir, dan macam-macam lagi hal yang tidak diingankan oleh manusia.
Malwan Belgia dalam novelnya berjudul Sampah di Laut, Meira terbitan Mojok mencoba menggambarkan bagaimana perjalanan sampah-sampah plastik penyebab banjir itu menyusuri hari hanrinya. Mereka dibuang, diinjak-injak, diolok-olok sesama sampah lain yang mudah terurai.
Botol plastik yang sejatinya adalah ciptaan manusia untuk memenuhi kebutuhan manusia yang sangat dibutuhkan selagi masih digunakan. Botol-botol plastik merasa senang ketika mereka menjadi bermanfaat bagi manusia. Mereka dibeli, dan dinikmati isinya sebagai penghilang dahaga.
Namun ketika isi dalam botol mereka kosong, mereka hanya menjadi sampah, dibuang tanpa memikirkan kemana tempat pembuangan yang selayaknya bagi mereka. Mereka ditelantarkan di selokan, disungai, atau bahkan dijalanan dan akhirnya dilindas truk-truk besar hingga tubuh mereka hancur. Mereka harus bertahan beratus-ratus tahun hingga tubuh mereka benar-benar bisa terurai.
Jika sampah-sampah itu berperasaan dan bisa bicara entah kata-kata pada yang akan keluarkan pada manusia. Ditambah ketika mereka dituding sebagai penyebab utama masalah-masalah lingkungan.
***
Jika makhluk-makhluk Tuhan itu pemaaf, maka sudah berapa ribu tahun mereka memaafkan kelakuan manusia yang terus menerus menggerus keasrian alam ini. Manusia yang memanfaatkan alam dengan eksploitasi besar-besaran.
Namun, saat ini alam sepertinya mulai menampakkan ekspresi yang kurang menyenangkan bagi manusia. Bencana alam dimana-mana, banjir, longsor, penyakit yang menyerang, hingga virus yang baru saja reda setelah sekian lama. Mungkin saja hal ini adalah karma atas perbuatan manusia sendiri. Alam yang sudah jemu dengan perbuatan manusia dan mulai berontak dan engan bersahabat dengan makhluk yang benama manusia. Seperti lirik dalam lagu ebiet G. Ade.
“Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”.
Maka dari itu, mari kita pedulikan lingkungan. Semoga angka kerusakan alam yang terjadi semakin menurun dan alam kita lekas pulih kembali.
Posting Komentar